UAS Agama kampus milenial ITBI Semester 1 (SATU)
Nama : IRNA MARLIANA SIREGAR
Kelas : Pagi
Jurusan : Informatika
Soal
Jawaban
1.Dari pertanyaan kita kepada ustadz, pak ustadz akan menjawab dan kita akan tau jawaban pak ustadz. setelah kita tau jawabannya maka itu adalah sebuah ilmu yang wajib di ingan dan dikerjakan dari sebuah pertanyaan dan jawaban pak ustadz tersebut.
2. 3+ Peran Ayah dalam Keluarga Menurut Islam, Penting dan Tak Tergantikan!
Peran ayah dalam keluarga sangatlah penting. Ayah merupakan sosok yang penting dalam keluarga. Selain sebagai pemimpin, ayah juga sering dijadikan idola dan panutan anak-anaknya. Saat menjalankan kewajibannya dengan baik, ayah menjadi sosok panutan yang bertanggungjawab dengan melindungi keluarganya.
Peran ayah dalam keluarga juga tentu akan memberikan pengaruh dalam pembentukan sebuah keluarga. Meski ayah dan ibu memiliki peran dan fungsinya masing-masing baik dalam hal pengasuhan anak maupun rumah tangga, peran ayah memiliki nilai yang lebih tinggi sebagai pemimpin.
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Hafizhohullah menjelaskan bahwa ayah memiliki tanggung jawab untuk mengambil peran dalam mendidik keluarga serta putra-putrinya untuk mentaati Allah.
Sebab, di antara doa-doa yang dilantunkan oleh para nabi, adalah do’a khusus untuk kebaikan anak-anak dan keturunananya.
Peran ayah dalam keluarga sudah harus terasa bahkan sejak kelahiran, dilansir contruction fatherhood. Di rumah, peran ayah ibarat kepala sekolah dan ibu sebagai guru.
Ayah berperan sebagai seorang konseptor yang merancang kurikulum dan ibu sebagai guru pelaksana. Sehingga lahir para alumni yang baik dan dicintai oleh Allah.
Berikut adalah sejumlah peran ayah dalam keluarga menurut Islam yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Menjadi Pemimpin dalam Keluarga
Peran ayah dalam keluarga yang pertama adalah menjadi pemimpin keluarga. Setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, dan Allah menciptakan manusia untuk menjadi Khalifah atau pemimpin di muka bumi ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Al-An’am:165).
Manusia dianugerahkan oleh Allah kedudukan untuk mengatur, memimpin dan memiliki kekuasaan di muka bumi. Meski begitu, menjadi pemimpin tentu tidak mudah. Karena setiap pemimpin itu akan diminta pertanggungjawabannya.
Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya,
Dan isteri pemimpin terhadap keluarga, rumah suaminya, dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya,”.
Kedua keterangan tersebut menegaskan betapa pentingnya sosok seorang ayah sebagai pemimpin keluarga. Tugas dan tanggung jawabnya begitu besar, karena tidak hanya menyangkut kehidupan di dunia tapi juga di akhirat kelak.
Ayah berperan sebagi pemimpin agar keluarganya selalu melakukan kebaikan yang mendatangkan pahala. Allah berfirman: “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya,” (Al-Zalzalah: 7-8).
2. Pencari Nafkah Keluarga
Peran ayah dalam keluarga yang selanjutnya adalah menjadi pencari nafkah keluarga. Peran ayah dalam keluarga selain sebagai pemimpin adalah sebagai pencari nafkah untuk keluarganya. Sebagaimana Allah Berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
Sebab itu maka perempuan yang shalehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (An-Nisa: 34).
Nafkah yang dicari oleh seorang ayah ini juga haruslah nafkah yang halal, karena Allah sudah menentukan rezeki bagi setiap orang. Allah berfirman: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya,” (An-Nahl: 114).
3. Mencarikan Pendamping yang Baik untuk Anaknya
Peran ayah dalam keluarga yang selanjutnya adalah mencarikan pendamping yang baik untuk anaknya. Urusan pendamping atau jodoh ini memang sudah diatur oleh Allah SWT. Namun, apabila seorang ayah memiliki anak perempuan yang sudah mampu untuk menikah, maka ayah bisa mencarikan pendamping untuk anaknya.
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memelihara tiga orang anak perempuan, lalu ia mendidik dan menikahkan mereka, serta berbuat baik kepada mereka, maka dia akan mendapatkan surga,”
Selain memimpikan surga, mencarikan pendamping yang baik untuk anaknya adalah peran ayah yang ditunjukkan agar anak-anaknya memiliki keluarga yang lebih baik dari dirinya. Tentunya setiap orang tua berharap anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dalam segala hal.
4. Peran Ayah sebagai Pendidik
Peran ayah dalam keluarga yang selanjutnya adalah menjadi pendidik keluarga. Dalam surat Luqman ayat 13-19, menyiratkan bahwa seorang ayah memiliki peran sebagai pemimpin sekaligus pendidik bagi anaknya. Dia tidak dapat melepaskan masalah pendidikan anak-anaknya hanya kepada ibu dan sekolahnya. Anak memerlukan ayah dalam perkembangannya, yang tidak dapat digantikan.
Nabi Muhammad SAW: “Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai Nabimu; mencintai ahlul baitnya; dan membaca AlQur’an, karena orang-orang yang memelihara Al-Qur’an itu berada dalam lingkungan singgasana Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan selain dari pada perlindungan-Nya; mereka beserta para Nabi-Nya dan orang-orang suci,” (At Thabrani).
Menjalankan peran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik atau educator dalam keluarga, ayah adalah guru bagi anak-anaknya, baik di dalam maupun di luar rumah. Cakupan pendidikan yang bisa diberikan pada anaknya begitu luas. Bukan hanya pendidik akademik saja, tetapi juga sosial dan nilai-nilai agama.
Rasulullah telah membuatkan metode yang jelas dalam mencegah kesalahan-kesalahan pada anak serta meluruskan ketimpangan perilakunya.
Orang tua yang berperan sebagai pendidik semestinya menempuh metode yang diberikan Rasulullah dan memilih metode yang paling patut dipakai dalam mendidik dan mengasuh anak ,sehingga para orangtua sampai pada apa yang mereka cita-citakan yaitu mendapatkan anak yang disiplin, beriman dan bertakwa.
Di antara metode Rasulullah dalam mencegah atau mengatasi kesalahan ialah pengarahan langsung. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Abu Salamah, ia berkata, “Aku pernah di bawah asuhan Rasul, dan waktu itu tanganku menggamak ke sana-sini di dalam baskom besar, maka Rasul berkata kepadaku,”Wahau anakku, bacalah bismillah kemudian makanlah dengan tangan kananmu, dan makan makanlah yang dekat denganmu,”.
Teladan Seorang Ayah
Karena ayah juga memiliki peran dalam mendidik keluarga, hal yang sama juga dicontohkan oleh para sahabat nabi. Abu Bakar Ahmad bin Kamil bin Khalaf bin Syajarah al-Baghdadi (350H) Rahimahullah misalnya, senantiasa memantau pendidikan putrinya, Amat as-Salam (Ummu al-Fath, 390 H) di tengah kesibukannya sebagai hakim.
Diriwayatkan oleh al-‘Atiqi, hafalan hadits Amat as-Salam bahkan selalu dicatat oleh sang ayah.
Syaikhul Islam Abu Abbas Ahmad bin Abdillah al-Maghribi al-Fasi (560 H) rahimahullah juga tercatat mengajari putrinya yang berusia tujuh tahu cara baca al-Qur’an, serta buku-buku hadits seperti Bukhari dan Muslim.
Walaupun ada yang mengatakan bahwa beliau terlalu sibuk dengan dakwah sehingga tidak pernah punya waktu untuk putrinya, hal ini dibantah oleh Imam al-Dhahabi yang mengatakan bahwa sulit dipercaya jika ada ulama yang berperilaku seperti ini.
Sebab, perbuatan seperti ini merupakan keburukan yang bertentangan dengan ajaran Nabi SAW, Sang Teladan bagi umat manusia yang biasa menggendong cucunya bahkan ketika sedang shalat.
Contoh lain bisa didapati dari riwayat pakar pendidikan Islam Ibnu Sahnun (256H) Rahimahullah. Disebutkan, Hakim Isa bin Miskin selalu memanggil dua putrinya setelah shalat Ashar untuk diajari al-Qur’an dan ilmu pengetahuan lainnya.
Demikian pula dengan Asad bin al-Furat, panglima perang yang menaklukkan kota Sicily, ternyata juga mendidik sendiri putrinya. Nama lain yang tercatat dalam sejarah adalah Syaikh al-Qurra, Abu Dawud Sulayman bin Abi Qasim al-Andalusi (496H) dan Imam ‘Ala al-din al-Samarqandi (539H) Rahimahumullah.
Mengingat pentingnya peran ayah dalam keluarga, Dads harus pintar-pintar membagi waktu ya.
4. Dalam Al Quran disebutkan betapa pentingnya pendidikan, mari kita pelajari awal bagaimana Al Quran diturunkan, dimana Nabi Muhammad SAW saat itu belum sama sekali mampu untuk membaca namun pada saat itu, Nabi Muhammad SAW dalam menemukan wahyunya dipaksa oleh malaikat jibril untuk membaca sehingga turunlah wahyu yang pertama yakni (Q.S Al Alaq 1-5)
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al 'Alaq: 1-5).
Dari kandungan ayat tersebut nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama bahwa pendidikan merupakan hal yang paling mendasar bagi manusi, kemudian dilanjutkan dengan ayat yang kedua bahwa disitu disebutkan proses penciptaan manusia yang berasal dari segumpal darah. Dimana ayat tersebut untuk memperkenalkan proses bagaimana manusia diciptakan, siapa diri kita sebenarnya, kalau dalam bahasa jawanya Sopo Ingsun.
Dan pada ayat ketiga Allah mengajarka manusia melalui Kalam yang mengandung pengertian alam semesta sebagai Guru. Dengan demikian bahwa selain ayat ayat yang tertulis juga seharusnya kita sebagai seorang muslim tidak hanya memahami secara tekstual namun kita juga memahami secara nyata yakni alam semesta sebagai perantara.
Dalam memahami Al Quran hendaknya juga dibarengi dengan keadan yang sesungguhnya yakni Kauniah dan Kauliah harus sejajar beriringan sehingga tidak salah didalam menafsirkan makna yang terkandung di dalam AL Qur'an yang mulia.
Banyak fenomena didalam kehidupan dimasyarakat kita melakukan suatu hal yang hanya didasari dengan pemahaman secara tekstual sehingga menimbulkan salah penafsiran dan berakibat tidak baik, hal tersebut didasari karena minimnya pengetahun Misalkan munculnya bom bunuh diri dan prilaku prilaku yang menyimpang dari Al Qur'an.
Islam telah mendorong literasi dan pendidikan sejak Al Quran diturunkan semenjak diturunkan, hal tersebut dibuktikan dengan firman Allah yang berbunyi
"...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...".(Q.S.al-Mujadilah [58]: 11)
Dengan ilmu pengetahuan seseorang akan mendapatkan tempat kemuliaan, hal tersebut diterangan berkali-kali dalam Al-Qur'an petapa pentingnya pengetahuan, tanpa ilmu pengetahuan niscahya kehidupan manusia akan menjadi sengsara. Bahwa pengetahuan merupkan bekal utama manusia dalam mengarungi perjalanan hidupnya. Al Qur'an memposisikan manusia yang memiliki pengetahuan pada derajat yang tinggi
Bukan hanya sekedar penting namun juga wajib mencari ilmu pengetahuan dan menjadi sesuatu yang utama , Dalam Al Qur'an menegaskan kepada manusia agar senantiasa berfikir untuk mendapatkan pengetahuan dengan perantaraan Kalam , hal tersebut di sebutkan berkali kali hingga 100 kali.
Dan pada ayat yang lain disebutkan bahwa untuk mempelajari sesuatu harus dipahami dengan sungguh-sungguh tidak tergesa-gesa, hal tersebut disampaikan melalui Al Quran yang berbunyi " Dan jangan tergesa gesa (Wahai Muhammad) dengan Al Qur'an sebelum wahyu itu selesai bagimu, dan katakan, "Tuhanku!Tingkatkan aku dalam pengetahuan (Q.S 20:114).
Bahwa untuk mengetahui sesuatu harus benar benar dipahami dan dimengerti semua membutuhkan sebuah proses pemahaman sehingga dalam memahami pengetahuan tidak instan, Dengan demikian Al Qur'an diturunkan secara beragsur angsur sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh umatny.
5. Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, "Seorang Muslim itu adalah orang yang orang-orang Muslim lainnya merasa aman dari (kejahatan) lisan dan tangannya."
Hadits riwayat Bukhari berbunyi, "Seseorang bertanya kepada Nabi, apakah (amalan-amalan) yang baik di dalam Islam? Nabi menjawab: engkau memberikan makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan kepada orang yang engkau tidak kenal.
Selain itu, dalam hadits riwayat An-Nasa'i, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seorang muslim itu adalah orang yang orang-orangnya manusia lainnya merasa aman (kejahatan) lisan dan tangannya dan orang mukmin adalah orang yang manusia lainnya merasa aman atas darah (jiwa) dan harta mereka."
Dari tiga hadits tersebut menunjukkan bahwa Islam sebagai agama secara normatif memastikan terwujudnya kedamaian dan keselamatan seluruh umat manusia, dan orang muslim tidak lain adalah mereka yang mewujudkan nilai-nilai luhur Islam tersebut.
Adapun, Islam rahmatan lil alamin terdiri dari dua kata, yakni rahmat yang berarti kasih sayang, dan lil alamin yang berarti seluruh alam. Namun, ulama tafsir berbeda pendapat mengenai maksud rahmatan lil alamin dalam surat Al Anbiya.
Menurut Ath-Thabari yang paling benar adalah [rahmat] bagi orang beriman maka sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepadanya dan memasukkan keimanan ke dalam dirinya dan memasukkanya ke dalam surga dengan mengerjakan amal yang diperintahkan Allah.
Sementara itu, Islam rahmatan lil alamin adalah konsep abstrak yang mengembangkan pola hubungan antar manusia yang pluralis, humanis, dialogis, dan toleran. Selain itu, konsep ini mengembangkan pemanfaatan dan pengelolaan alam dengan rasa kasih sayang.
Sederhananya, maksud Islam rahmatan lil alamin adalah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Adapun, contoh Islam rahmatan lil alamin adalah guru atau dosen sebagai sumber belajar bagi para siswa dan mahasiswanya.



Komentar